Sabtu, 02 Agustus 2014

Proposal penelitian

nah ini output dari simbol. rajinnya gue ngerjain ini sendiri karna dadakan. haha, dibantu banyak banget sama mentor sih hihihi 

PROPOSAL PENELITIAN
“PERAN MAKROZOOBENTOS SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN DISUNGAI TELAGA WARNA,CIBULAO, JAWA BARAT”

 




KELOMPOK 
PERAIRAN 1
ANGGOTA 
1.          Farrah Meuthia
2.          Fennisa
3.          Heldy Gugun
4.          Novia Listiana
5.          Nur Aisyah
6.          Wury Maharani






BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2014


BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Perairan adalah suatu daerah yang dimana terdapat air yang menggenang ataupun mengalir. Kualitas perairan mempengaruhi keberlangsungan hidup organisme yang tinggal diperairan tersebut. Manusiapun juga membutuhkan perairan. Tingkat kualitas perairan dapat diketahui melalui makrozoobentos sebagai bio indikatornya.
      Dari paparan di atas, kami sebagai peneliti ingin mengetahui peran makrozoobentos sebagai bioindikator kualitas perairan di sungai yang berada di kawasan Taman Wisata Alam Telaga Warna, Cibulao, Jawa Barat.

I.II Perumusan Masalah
            “Peran Makrozoobentos Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Sungai Telaga Warna, Cibulao, Jawa Barat”

I.III Tujuan
            Tujuan dari penelitian kali ini adalah untuk mengetahui Peran Makrozoobentos Sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Sungai Telaga Warna, Cibulao, Jawa Barat.

I.IV Manfaat
            Manfaat dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk peneliti :
a.       Dapat mengetahui keanekaragaman makrozoobentos yang berada di kawasan Taman Wisata Alam Telaga Warna, Cibulao, Jawa Barat.
b.      Dapat mengetahui tingkat kualitas perairan di sungai Telaga warna, Jawa Barat.
c.       Dapat memberikan informasi bagi masyarakat umum tentang keanekaragaman makrozoobentos di perairan di Taman Wisata Alam Telaga Warna, Cibulao, Jawa Barat.
2.      Untuk masyarakat umum
a.       Dapat mengetahui informasi keanekaragaman makrozoobentos yang ada di Taman Wisata Alam Telaga Warna, Cibulao, Jawa Barat.
b.      Untuk mengetahui kualitas perairan dikawasan telaga warna,Cibulao, Jawa Barat


                                                       BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Taman Wisata Alam Telaga Warna
Perairan permukaan diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama, yaitu badan air mengalir (Flowing Waters atau Lotik) dan badan air tergenang (Standing Waters atau lentik). Perairan tergenang meliputi danau, kolam, waduk (Reservoir), rawa (Wetland), telaga dan sebagainya.
Salah satu tempat yang kami jadikan sebagai objek penelitian adalah Telaga Warna. Telaga warna merupakan danau alami yang dikelilingi oleh hutan hujan pegunungan. Danau ini merupakan ekosistem danau kecil di dataran tinggi yang mempunyai kedudukan unik, sehingga dijadikan daerah lindungan dengan status ta-man wisata alam berdasarkan keputusan Menteri Pertanian No. 481/Kpts/Um/6/1981. Kawasan ini terletak 27 km di sebelah tenggara Bogor, pada ketinggian lebih kurang 1300 meter di atas permukaan laut.

B.     Kualitas Air
         Kualitas air adalah merupakan suatu ukuran kondisi air dilihat dari karakteristik fisik, kimiawi, dan biologisnya. Kualitas air juga menunjukkan ukuran kondisi air relatif terhadap kebutuhan biota air dan manusia. Kualitas air seringkali menjadi ukuran standar terhadap kondisi kesehatan ekosistem air dan kesehatan manusia terhadap air minum.
        Berbagai lembaga negara di dunia bersandar kepada data ilmiah dan keputusan politik dalam menentukan standar kualitas air yang diizinkan untuk keperluan tertentu. Kondisi air bervariasi seiring waktu tergantung pada kondisi lingkungan setempat. Air terikat erat dengan kondisi ekologi setempat sehingga kualitas air termasuk suatu subjek yang sangat kompleks dalam ilmu lingkungan. Aktivitas industri seperti manufaktur, pertambangan, konstruksi, dan transportasi merupakan penyebab utama pencemaran air, juga limpasan permukaan dari pertanian dan perkotaan.

C.      Makrozoobentos
          Hewan makrozoobentos invertebrata merupakan hewan yang tidak bertulang belakang yang dapat dilihat oleh mata biasa dengan ukuran lebih besar dari 200µm – 500µm (Slack et al., 1973; Weber, 1973; Wiederholm, 1980; Suess, 1982 dalam Rosenberg dan Resh, 1993). Hewan ini hidup pada dasar kolam, danau, dan sungai untuk seluruh atau sebagian tahapan hidupnya. Mereka dapat hidup pada batuan, ataupun bergerak bebas pada ruang antar batuan, pada runtuhan bahan organik (Standard Methods, 1989). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, bentos adalah organisme yang mendiami daerah dasar perairan.
              Bentos merupakan organisme yang melekat di permukaan substrat dasar sungai (Odum, 1993). Sedangkan makrozoobhentos adalah bentos yang dapat terlihat dengan mata biasa. Biasanya menempati ruang kecil antara batuan di dasar dalam runtuhan bahan organik, di atas batang kayu dan tanaman air atau di dalam sedimen halus. Biasanya berukuran lebih besar dari 1 mm. Makrozoobentos ini pada umumnya terdiri dari larva Insecta, Crustacea, Mollusca, Oligochaeta, dan Arachnidae (Feminella dan Flynn, 1999). Hewan-hewan ini secara terus menerus terkena substansi yang diangkut oleh aliran sungai sehingga memiliki kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap perubahan kondisi lingkungan. Hal ini menyebabkan makrozoobentos sesuai untuk dijadikan indikator ekologi dari suatu perairanMakrozoobentos tersebut dapat dikuantifikasi dengan menentukan kekayaan spesies (jumlah jenis hewan yang tercuplik dalam sampel), kelimpahan (jumlah total individu dalam sampel), kelimpahan rata-rata (jumlah rata-rata satu jenis hewan terhadap jenis yang lainnya), dan keanekaragaman spesies (distribusi total individu setiap jenis pada sampel). Mudahnya kuantifikasi makrozoobentos tersebut menunjukkan bahwa makrozoobentos memenuhi syarat sebagai bioindikator selain terpenuhinya syarat-syarat yang lainnya (variasi genetis yang sedikit, mobilitas terbatas, dan mudah pengindentifikasian masing-masing jenis) (Rosenberg dan Resh, 1993).
Beberapa keuntungan penggunaan makrozoobentos adalah:
  • hewan-hewan ini terdapat di mana-mana sehingga dapat dipengaruhi oleh perubahan kondisi lingkungan pada berbagai tipe perairan,
  • jenis dari makrozoobentos sangat banyak sehingga memungkinkan spektrum luas dalam pengamatan terhadap respons stres di lingkungan,
  • hewan-hewan ini pergerakannya cenderung sedikit sehingga dapat dilakukan analisis spasial yang efektif terhadap efek dari polutan,
  • siklus hidup yang panjang memungkinkan diuraikannya perubahan yang bersifat sementara akibat gangguan yang terjadi.
Keuntungan-keuntungan ini menyebabkan makrozoobentos bertindak sebagai pengawas secara terus-menerus terhadap kualitas air tempat hidupnya (Rosenberg dan Resh, 1993).Namun disamping berbagai keuntungan yang bisa didapatkan dari bioindikator makrozoobentos, terdapat pula kerugian dari penggunaan makrozoobentos tersebut. Selain itu, makrozoobentos juga sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisik air, seperti kecepatan arus air. Kemudian pada tahap analisis masih banyak jenis-jenis makrozoobentos yang sulit untuk diidentifikasi (Rosenberg dan Resh, 1993).Seperti yang telah disebutkan, hewan makrozoobentos dapat digunakan menjadi indikator pencemaran dengan beberapa kategori. Beberapa hewan makrozoobentos ada yang memiliki sifat hidup intoleran terhadap pencemaran yang terjadi, contohnya: Ephemeroptera, Plecoptera, Trichoptera. Beberapa jenis yang lain digolongkan fakultatif yaitu dapat hidup pada lingkungan yang bersih sampai tercemar sedikit atau sedang, contohnya: beberapa taxa dari Diptera, Odonata, Coleoptera, Pelecypoda. Sedangkan beberapa jenis yang lain memiliki sifat hidup toleran terhadap berbagai pencemaran yang terjadi pada habitatnya, contohnya: beberapa jenis Diptera, Hirudinae, Oligochaeta.
          Berdasarkan Wilhm (1975) dan Basmi (1999) (Alma Sina, 2005), kepekaan jenis-jenis makrozoobentos di sungai terhadap polusi bahan organik dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu:
  • kelompok intoleran, contohnya: Ephemeroptera, Plecoptera, Trichoptera
  • kelompok fakultatif, contohnya: Odonata, beberapa Diptera (Tipulidae & Rhagionidae), Pelecypoda
  • kelompok toleran, contohnya: beberapa Diptera (Tanypodinae & Simuliidae), Hirudinae, Gastropoda
Sejauh ini belum banyak informasi yang mengungkap tentang ekosistem perairan Telaga Warna, terlebih tentang organisme penyusunnya. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjelaskan secara umum mengenai keanekaragaman makrozoobentos yang terdapat pada perairan lotik dan perairan lentik pada Taman Wisata alam Telaga Warna. Penelitian ini masih sebatas kajian awal, yang memerlukan tindakan penelitian yang lebih jauh.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu Penelitian
            Hari/tgl            : Sabtu, 15 April 2014
            Waktu             : Pukul 07.30 – 12.00 WIB
            Tempat            : Taman Wisata Alam Telaga Warna – Kab. Bogor
3.2 Metodologi Penelitian
            Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif dengan desain survei, dan pengambilan sampel dengan teknik plotting. Pengukuran parameter fisik pada beberapa lokasi berdasarkan tempat plotting.
3.3 Alat dan Bahan
            Alat yang kami gunakan yaitu alat dokumentasi (kamera), alat tulis, wadah spesimen, meteran gulung, termometer, buku identifikasi makrozoobentos, lup, seccidish, kick net.
            Bahan -

3.4 Cara Kerja
1.        Penangkapan Makrozoobentos dengan teknik plotting
Penangkapan makrozoobentos dengan teknik plotting yaitu dengan cara meletakkan plot yang terbuat dari besi yang berukuran 50 cm x 50 cm pada badan sungai. Kemudian diukur parameter fisik yaitu suhu dengan menggunakan thermometer, kemudian kedalaman air dengan meteran dan tingkat kekeruhan air dengan seccidisk, lalu mengukur kecepatan air dengan menggunakan meteran gulung dan bola serta stopwatch. Setelah mengukur parameter fisik dipasang kick net dan mulai mengaduk aduk air , mengangkat bebatuan agar semua makrozoobentos tertangkap di kick net. Setelah dinilai cukup maka  kick net diangkat dan ditunggu airnya kering. Kemudian makrozoobentos diambil dan dipindahkan kedalam wadah berupa piring yang berwarna putih. 
   Setelah dilakukan proses pengidentifikasian, kemudian dibuat plot baru yang berjarak 2 meter. Lalu dilakukan perlakuan yang sama dengan di plot sebelumnya.


2.    Pengidentifikasian Makrozoobentos
          Pengidentifikasian makrozoobentos pada penelitian ini masih sebatas mencocokkan morfology makrozoobentos dengan gambar yang ada di field guide. Disebabkan makrozoobentos berukuran kecil, maka dimudahkan dengan lup dan piring putih.

3.             suhu air
Dengan cara memasukkan ujung termometer pada permukaan air di titik pengamatan. Lalu membiarkannya beberapa saat sampai air raksa/alkohol tidak bergerak lagi. Selanjutnya suhu dapat dilihat pada skala.

4.    Mengukur kedalaman air
Dengan cara memasukkan tongkat pada bagian perairan yang akan diukur kedalamannya. Bagian yang basah diukur dengan meteran. Kemudian kedalaman air dapat dilihat pada skala.
5.    Mengukur kecerahan air
Piringan secchi yang konvensional adalah piringan ynag di cat putih dan hitam secara bergantian pada permukaan yang menghadap pada pengamat, permukaan di bawahnya dicat hitam dan digantungkan pemberat dari pusatnya serta dipasang kait untuk diikatkan dengan tali.
Cara kerjanya adalah menurunkan piringan ke dalam air sampai piringan tepat hilang dari pandangan dan dinaikkan perlahan-lahan sampai batas dimana secchidisk masih terlihat mata dan jika Sditurunkan lagi tidak terlihat. Kemudian mencatat kedalamannya dengan cara, panjang tali seccidish yang basah diukur dengan meteran.
6.    Mengukur Kecepatan arus air
     Meletakkan meteran sepanjang 100 cm meletakkan bola pada titik 0 lalu menghitung waktu dengan menggunakan stopwatch sampai gabus berada pada titik 100 cm. Lalu menghitung kecepatan dengan rumus V= S/t
3.5  Teknik Analisis Data
Dengan cara melakukan pengidentifikasian dan memberikan nilai pada setiap spesies seperti pada daftar di tabel sebagai berikut :

Setelah menjumlahkan skor kemudian dilakukan perhitungan kualitas perairan:
Kualitas perairan = total skor/banyak spesies
Kriteria kualitas perairan:
0                                                                = luar biasa kotor
1,0-2,9                = sangat kotor
3,0-4,9                = kotor
5,0-5,9                = sedang/rata-rata
6,0-7,9                = bersih
8,0-10                  =sangat bersih






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar